HYBRID LEARNING SISTEM PEMBELAJARAN DI MASA PANDEMI

Oleh :
I Gusti Lanang Suardana, S.Pd
lanang.suardana@yahoo.com
Guru SD Bali Public School
Jl. Drupadi, No. 52, Renon – Denpasar

A. PENDAHULUAN

Sistem pembelajaran Hybrid  Learning  merupakan suatu peralihan sistem pembelajaran yang bersifat wajib dimasa pandemi Covid-19 bagi seluruh jenjang sekolah yang ada di Indonesia tanpa kecuali. Semenjak perkembangan teknologi yang semakin canggih, sistem pembelajaran ini sebenarnya sudah dari dulu diterapkan oleh beberapa sekolah atau penyelenggara pendidikan, namun tidak terlalu familiar dan tidak banyak orang yang tahu dan sadar dari penerapan sistem pembelajaran ini. Terminologi Hybrid  Learning ini lebih fasih disebut dengan Blended Learning dewasa ini, dimana kedua istilah tersebut memiliki makna yang sama. Blended Learning juga kadang disebut sebagai Hybird Course, yang berarti pembelajaran campuran (Allen et al., n.d.). Hybrid  learning  adalah  model  pembelajaran yang mengintegrasikan inovasi dan kemajuan teknologi melalui sistem online learning   dengan   interaksi   dan   partisipasi   dari  model  pembelajaran  tradisional  (Kaye Thorne, 2003). Sistem pembelajaran Blended Learning  merupakan penggabungan dua model pembelajaran yang sangat berbeda, yaitu model tradisional tatap muka, dan model pembelajaran modern yang berbasis teknologi (Setyowati, 2020). Sistem ini menerapkan pendekatan humanis bagi peserta didik dengan memberikan dua (2) pilihan metode belajar yakni secara online dan offline (face-to face) guna mengoptimalkan proses pembelajaran dimasa Pandemi Covid-19 yang mana prioritas kesehatan menjadi hal yang paling penting bagi pelaku dunia pendidikan. Oleh sebab itu, secara garis besar, Hybrid  Learning  dapat diartikan sebagai metode pembelajaran yang memadukan pembelajaran konvensional tatap muka dan pembelajaran berbasis elektronik/internet (Setyowati, 2020).

Dalam situasi sekarang ini, penerapan Hybrid  Learning didunia pendidikan Indonesia menjadi hal yang sangat luar biasa gaungnya, walaupun bagi beberapa sekolah atau penyelenggara pendidikan kegiatan atau proses belajar mengajar secara online sebenarnya bukan hal yang baru lagi bagi mereka. Beberapa sekolah atau penyelenggara pendidikan sudah biasa memanfaatkan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi dalam menunjang pelaksanaan proses pembelajaran tanpa adanya tuntutan seperti saat ini. Namun, menyelenggarakan proses belajar mengajar secara campuran atau Hybrid  Learning  dengan baik dan efektif merupakan hal yang baru bagi warga sekolah. Pihak sekolah, orang tua peserta didik, guru dan peserta didik sendiri masih perlu melakukan adaptasi dalam penerapan kebijakan baru ini serta mengetahui secara sadar bagaimana makna, peran dan teknis dari penerapan sistem ini. Sehingga tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan makna, komponen bagian dan starategi teknis penerapan sistem Hybrid  Learning dalam pembelajaran di masa pandemi Covid-19.

B. PEMBAHASAN
1. Masalah Pembelajaran
Masalah pembelajaran yang dirasakan dari pertama kali pandemi covid-19 ini terjadi sampai dengan saat ini yaitu sistem pembelajaran yang masih dianggap paling efektif adalah sistem Konvensional Learning (offline) yaitu proses pembelajaran yang dilakukan dengan tatap muka tradisional secara langsung disekolah. Sistem  ini masih dianggap yang terbaik dalam kegiatan pembelajaran karena dirasa mampu memberikan kegiatan untuk berinteraksi secara langsung dan leluasa bersama guru dan peserta didik didalam kelas yang dapat menghadirkan lingkungan ideal untuk belajar yang lebih komunikatif atau pertukaran informasi secara maksimal. Dilihat dari sisi kelemahannya, sistem ini tidak cukup memfasilitasi setiap individu dalam memenuhi gaya belajarnya dimana tidak setiap peserta didik memiliki gaya dan kecepatan serta kebutuhan belajar yang sama ditambah dengan situasi pandemi saat ini yang mengharuskan seluruh proses pembelajaran harus dilakukan secara jarak jauh atau dilakukan secara terbatas sesuai denga kebijakan dan protocol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Disisi lain, penerapan sistem pembelajaran online saja memiliki kelebihan dalam memberikan suasana belajar baru, fleksibilitas waktu akses,  keleluasaan dalam melakukan pembelajaran dan kekayaan akan sumber belajar yang bisa di integrasikan secara lebih fleksibel antara sumber belajar yang satu dengan yang lainnya serta lebih aman dari penyebaran Covid-19. Sistem pembelajaran ini juga memiliki kelemahan yaitu pada proses pembelajaran yang menggunakan video online tidak akan ditemukan adanya interaksi langsung antara guru dan peserta didik. Hal ini menyebabkan unsur-unsur non verbal dalam interaksi tidak tersampaikan secara sempurna (Graham, Allen, & Ure, 2005). Penyajian materi dengan sistem video online kurang interaktif, peserta didik akan merasa sendiri dan pastinya mereka tidak bisa bertahan lama belajar di depan komputer/laptop/smartphone dengan hanya melihat/menonton saja tanpa adanya interaksi sehingga memunculkan rasa bosan dalam belajar. Sedangkan proses pembelajaran online yang menggunakan video conference memiliki kelemahan dalam hal signal yang kurang stabil sehingga mengakibatkan tidak mulusnya penyampaian informasi sehingga terjadi misunderstanding kepada peserta didik yang membuat mereka kecewa dan akhirnya menimbulkan kebosanan serta kurangnya peran guru dalam hal pengawasan selama proses pembelajaran berlangsung terkait keterbatasan dari media yang digunakan. Kurangnya daya akses atau jangkauan secara leluasa kepada peserta didik mengakibatkan proses pendidikan karakter tidak bisa berjalan secara optimal selama proses pembeajaran berlangsung. Selain dari sisi teknis, fasilitas penunjang juga menjadi salah satu masalah serius dari penerapan sistem pembelajaran secara online ini, dimana tidak semua peserta didik memiliki piranti berupa smartphone, computer/laptop secara mandiri serta ketersediaan fasilitas internet yang memadai ditambah tidak adanya pendamping yang selalu ada untuk membantu membimbing dan mengontrol proses pembelajaran dirumah.

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa selama pandemi ini berlangsung proses pembelajaran  tetap memerlukan situasi belajar yang komunikatif antara siswa dan gurunya yang hanya bisa dicapai dengan bertatap muka secara langsung disekolah dengan tetap menghadirkan suasana atau gaya belajar yang lebih bervariatif melalui sistem pembelajaran online. Sehingga Hybrid  Learning bisa menjadi sebuah alternatif sistem pembelajaran baru dalam memfasilitasi kelemahan dari dua sistem pembelajaran diatas yangmana penerapan dari sistem ini tetap memperhatikan peraturan dan protocol kesehatan yang berlaku. Sistem baru ini akan  merangsang dan membangkitkan gairah dan motivasi belajar siswa, memberikan gaya belajar dan suasana belajar yang lebih bervariatif serta untuk mengejar ketertinggalan dari tujuan pembelajaran selama ini sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

2. Hybrid  Learning dalam Pembelajaran
a. Komponen Hybrid  Learning
Hybrid  Learning atau lebih dikenal dengan Blended Learning merupakan pengkombinasian dari beberapa sistem pembelajaran guna mencapai tujuan yang diinginkan. Driscool & Carliner (2005:234) mendefinisikan: Blended Learning integrates or blends-learning programs in different formats to achieve a common goal. Artinya Blended Learning mengintegrasikan atau menggabungkan program belajar dalam format yang berbeda dalam mencapai tujuan umum. Saat ini sitsem Hybrid  Learning yang berkembang adalah penggabungan dari satu atau lebih format atau komponen berikut;

  • Face–to Face Learning

Face to Face Learning merupakan kegiatan pembelajaran tatap muka secara langsung antara guru dan siswa disekolah. Kegiatan pembelajaran disekolah meliputi penyampaian materi melalui tatap muka, diskusi, presentasi, latihan dan ujian.

  • Synchronous Learning

Synchronous Learning adalah salah satu pola pembelajaran jarak jauh yang bersifat kolaboratif yang melibatkan interaksi langsung antara guru dan peserta didik yang disampaikan pada waktu yang sama. Kegiatan ini dilaksanakan dengan memanfaatkan media online berupa video conference dan instan chating. Media ini akan digunakan untuk melakukan komunikasi antara guru dan peserta didik pada saat jam belajar.

  • Asynchronous Learning

Asynchronous Learning adalah salah satu pola pengajaran online yang bersifat kolaboratif yang melibatkan interaksi antara guru dan peserta didik yang disampaikan pada waktu yang berbeda Media yang digunakan dalam aktivitas belajar ini adalah Learning Managemen Sistem atau sering disebut dengan LMS seperti Google Classroom, Moodle, Google Site dan sejenisnya yang mana didalamnya mengkolaborasikan rekaman video pembelajaran yang dibuat oleh guru dengan latihan atau diskusi lanjutan yang bisa diakses oleh peserta didik sewaktu waktu dan dimana saja.

  • Individualized Learning

Individualized Learning merupakan model belajar mandiri secara online ataupun offline dalam waktu yang berbeda dimana peserta didik dapat mempelajari materi yang diberikan oleh guru dalam bentuk modul bahan ajar ataupun mengerjakan tugas dan latihan secara online ataupun ofline tanpa adanya video atau rekaman pembelajaran dari gurunya. Melalui kegiatan ini peserta didik juga dapat mempelajari materi pembelajaran dengan mencari pada  sumber-sumber belajar lainnya. Individualized Learning ini bisa dilakukan secara berkelompok dalam mempermudah proses pembelajaran.

b. Strategi Penerapan Hybrid  Learning

Pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan yang bertujuan untuk mengantisipasi penularan virus Covid-19 secara masif. Dalam dunia pendidikan kebijakan terbaru yang beredar adalah meminta sekolah atau penyelenggara pendidikan untuk mencoba menerapkan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT). PTMT dimaksudkan untuk sekolah atau penyelenggara pendidikan yang sudah memenuhi syarat checklist protokol kesehatan Covid-19 untuk membuka akses proses pembelajaran tatap muka disekolah secara terbatas dan diatur sedemikian rupa dengan mengacu kepada protokol kesehatan yang telah ditetapkan seperti waktu PTMT hanya 2–4 jam saja serta peserta didik yang diijikan melakukan PTMT tidak lebih dari 50% dari jumlah siswa disetiap rombongan belajar (rombel). Bagi peserta didik yang tidak diijinkan atau belum siap untuk untuk melakukan PTMT terkait situasi keamanan yang dirasakan maka sekolah tetap wajib memfasilitasi peserta didik tersebut dengan memberikan proses pembelajaran secara online. Dengan kata lain sekolah harus siap menerapkan sistem Hybrid  Learning dimasa pandemi ini.

Adapun strategi penerapan Hybrid  Learning dalam proses pembelajaran bisa dilakukan dengan teknis sebagai berikut;
1) Complete Hybrid  Learning
Complete Hybrid  Learning adalah proses pembelajaran yang melibatkan empat komponen Hybrid  Learning secara bersamaan dalam sebuah proses pembelajaran.

  • Melakukan analisa dan pemetaan materi pembelajaran terlebih dahulu dengan dasar materi susah dan gampang. Ini dimaksudkan agar pemilihan metode penyampaian bisa dilakuakn dengan tepat terkait waktu yang terbatas.
  • Mendesain materi yang bersifat teori dan praktek. Hal ini bertujuan supaya porsi waktu dan pemilihan desain, metode dan strategi pembelajaran bisa dilakukan dengan cermat dan tepat sasaran.
  • Mengkemas materi yang simpel, menarik dan bermakna. Hal ini akan membuat siswa selalu tertarik kepada setiap materi yang akan dibahas. Pengkemasan materi ini bisa dilakukan dengan media powerpoint dan video.
  • Menyiapakan materi yang telah dirancang pada LMS yang akan digunakan seperti Moodle, Google Classroom, Google Site dan media sejenis lainnya. Ini bertujuan untuk memberikan akses mudah atau satu pintu kepada peserta didik serta akan lebih terstruktur.
  • Memilih salah satu flat form video conference yang dianggap baik dan nyaman digunakan bersama peserta didik seperti Zoom, Meet, Webex dan sejenisnya.
  • Melakukan proses pembelajaran dikelas bersama peserta didik yang hadir disekolah sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dan bagi peserta didik yang belajar dari rumah bisa diberikan link video conference untuk melakukan Synchronous Learning.
  • Memposisikan kamera pada laptop diarahkan kepada peserta didik yang berada disekolah kemudian memperbesar tampilan video conference pada layar laptop dengan menggunakan Projector sehingga peserta didik yang disekolah bisa melihat temannya yang belajar dari rumah secara online (Synchronous Learning).
  • Memanfaatkan smartphone sebagai microphone dan kamera portable yang bisa dibawa keliling mendekati peserta didik yang ada disekolah ataupun mendekati media atau papan tulis apabila diperlukan menulis. Ini akan membuat kualitas suara lebih jelas dan video situasi pembelajaran didalam kelas menjadi lebih bervariatif.
  • Merekam kegiatan pembelajaran yang sedang dilakukan dengan merekam layar laptop atau merekam langsung kegiatan yang ada dikelas. Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi peserta didik yang melakukan pembelajaran Asynchronous Learning. Rekaman yang dibuat bisa diupload kedalam channel youtube kemudian linknya disematkan pada LMS yang dipilih.
  • Memaksimalkan waktu tatap muka di sekolah dengan memberikan resume materi yang penting dan bermakna saja dan sisanya bisa memaksimalkan media LMS untuk Asynchronous Learning dan Individualized Learning terkait waktu tatap muka yang terbatas.

2) Incomplete Hybrid  Learning
Incomplete Hybrid  Learning adalah proses pembelajaran yang meniadakan komponen Synchronous Learning terkait fasilitas pendukung yang tidak memadai seperti koneksi internet. Jadi peserta didik hanya melakukan Face–to Face Learning, Asynchronous Learning dan Individualized Learning.

  • Melakukan analisa dan pemetaan materi pembelajaran terlebih dahulu dengan dasar materi susah dan gampang. Ini dimaksudkan agar pemilihan metode penyampaian bisa dilakuakn dengan tepat terkait waktu yang terbatas.
  • Mendesign materi yang bersifat teori dan praktek. Hal ini bertujuan supaya porsi waktu dan pemilihan design, metode dan stategi pembelajaran bisa dilakukan dengan cermat dan tepat sasaran.
  • Mengkemas materi yang simple, menarik dan bermakna. Hal ini akan membuat siswa selalu tertarik kepada setiap materi yang akan dibahas. Pengkemasan materi ini bisa dilakukan dengan media powerpoint dan video.
  • Menyiapakan materi yang telah dirancang pada LMS yang akan digunakan seperti Moodle, Google Classroom, Google Site dan yang lainnya. Ini bertujuan untuk memberikan akses mudah atau satu pintu kepada peserta didik serta akan lebih terstruktur.
  • Melakukan proses pembelajaran dikelas bersama peserta didik yang hadir disekolah sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.
  • Merekam kegiatan pembelajaran yang sedang dilakukan dikelas. Hal ini bertujuan untuk memfasilitasi peserta didik yang melakukan pembelajaran Asynchronous Learning. Rekaman yang dibuat bisa diupload kedalam channel youtube kemudian linknya disematkan pada LMS yang dipilih dan siswa yang tidak hadir bisa mengakses rekaman pembelajaran tersebut.
  • Memaksimalkan waktu tatap muka di sekolah dengan memberikan resume materi yang penting dan bermakna saja dan sisanya bisa memaksimalkan media LMS untuk Asynchronous Learning dan Individualized Learning terkait waktu tatap muka yang terbatas.

Untuk kendala internet pada peserta didik, guru bisa mengarahkan mereka dengan meminta melakukan  Individualized Learning secara berkelompok atau bisa disebut dengan Individualizad Learning Collaborations. Jadi peserta didik yang terkendala internet bisa belajar bersama teman mereka yang memiliki akses internet yang lebih baik atau dengan mencari spot internet yang memadai secara bersama-sama. Hal terpenting dalam kesuksesan penerapan strategi Hybrid Learning  ini terletak pada ketrampilan guru dan fasilitas yang memadai. Guru harus siap memanfaatkan teknologi dalam menunjang proses pembelajaranya serta harus lebih kreatif dalam mendesign dan merencanakan sebuah proses pebelajaran yang variatif dan menarik. Untuk itu guru selalu ditunutt untuk melakukan evaluasi, refleksi, dan perbaikan terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksankan.

SIMPULAN
Dari pemaparan dan pembahasan diatas, penulis menyimpulkan bahwa strategi pembelajaran Hybrid Learning memang menjadi salah satu strategi pembelajaran yang fleksibel diterapkan ditengah pandemi Covid-19 yang masih melanda negeri ini. Aspek terpenting yang menjadi tonggak keberhasilan dari penerapan strategi ini adalah aspek ketrampilan guru dalam mendesain materi ajar dengan pemanfaatan teknologi terkini dan aspek ketersediaan sarana dan prasarana serta fasilitas penunjang yang memadai.

Tidak ada strategi pembelajaran yang sempurna didunia ini, semua memiliki sisi plus dan minus-nya masing-masing. Namun dengan berkaca dari hal tersebut setidaknya semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan harus melakukan evalausi, refleski dan perbaikan pada aspek yang menjadi kekurangan dari strategi pembelajaran yang diterapkan. Dengan hal tersebut kita akan memperoleh hasil yang lebih maksimal atau malah menemukan strategi pembelajaran lainnya yang lebih cocok dengan situasi seperti saat ini. Strategi pembelajaran Hybrid Learning ini menawarkan sebuah alternatif baru di dunia pendidikan dalam melawan penyebaran Covid-19.

DAFTAR PUSTAKA

Allen, I. E., Seaman, J., & Garrett, R. (n.d.). Www.Onlinelearningsurvey.Com/Reports/Blending-in.Pdf. papers3://publication/uuid/48E80429-F71A-485D-B612-7EBEAA114EA1

Anisa Cahyani. 2020. Menelaah Model Pembelajaran Hybrid (Blended Learning) yang Akan Dipermanenkan Mendikbud. Available at https://blog.kejarcita.id/menelaah-blended-learning/

Budhi Pamungkas & Heny Hendrayati (2016). Implementasi Model Hybrid Learning Pada Proses Pembelajaran Mata Kuliah Statistika II di Prodi Manajemen FPEB UP. Available at https://ejournal.upi.edu/index.php/JER/article/view/3430/2422 [diakses 18-05-2021]

Herawati, S. 2011. Blended Learning Untuk Menyiapkan Siswa Hidup di Abad 21, Seminar Nasional 2011 Pengembangan Pembelajaran Berbasis Blended Learning Universitas Negeri Malang.

Hasbullah & Siti Istiningsih (2015). Blended Learning, Trend Strategi Pembelajaran Matematika Masa Depan. Available at https://www.researchgate.net/publication/322889571_Blended_Learning_Trend_Strategi_Pembelajaran_Masa_Depan  [diakses 18-05-2021]

Kaye T. Blended Learning; How to Integrate Online and Traditional Learning, Kogan Limited 2003

Nada Dabbagh dan Brenda Bannan. 2005. Online learning Concepts, Strategies, and Application. New Jersey: Pearson Education.

Setyowati,  lesrtari; dkk. (2020). Beradaptasi dengan Perubahan. In Beradaptasi dengan Perubahan (Setyowati,).

Syifa Silvana. 2021. Efektifkah Metode Pembelajaran Blended Learning di Tengah Pandemi Covid-19? Available at https://kumparan.com/syifa-silvana/efektifkah-metode-pembelajaran-blended-learning-di-tengah-pandemi-covid-19-1v0XbJ7fnRX/full

Tinggalkan Balasan