Membangun Karakter yang Berbudaya

Oleh: Miswanto*

Sebuah adagium klasik menyatakan “If the wealth is lost, nothing is lost. If the health is lost, something is lost. But if the character is lost, everything is lost”. Pepatah klasik ini mengisyaratkan kepada kita betapa pentingnya karakter dalam kehidupan ini. Sampai-sampai karakter mempunyai nilai yang “lebih tinggi di atas” kesejahteraan (wealth) dan kesehatan (health). Orang akan kehilangan segala-galanya jika ia sudah “kehilangan karakter” dalam dirinya.

Hal itu pula yang kini sedang ramai dibicarakan dalam berbagai aspek kehidupan di negeri ini. Lebih-lebih dalam dunia pendidikan yang seharusnya dijadikan sebagai tempat untuk membangun karakter (character buliding) tersebut. Banyak keluhan yang ditujukan kepada dunia pendidikan kita karena tidak mampu membentuk manusia yang berkarakter. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai kasus terkait etika, moralitas, sopan santun atau perilaku dari kalangan terdidik yang tidak mencerminkan nilai karakter pendidikan itu sendiri.

Pendidikan di Indonesia ditengarai hanya menghasilkan robot-robot yang mampu menaklukkan dunia tetapi tidak mampu menaklukkan dirinya sendiri. Mereka adalah generasi masa kini yang sarat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi minim dalam implementasi nilai-nilai moral dan etika universal. Oleh karena itu jangan heran jika saat ini banyak para kaum terpelajar yang menjadi kurang ajar, kaum intelektual melakukan tindakan kriminal, para sarjana yang durjana, anak yang durhaka kepada emak-bapak, murid yang berani pada sang mursid dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam kondisi yang demikian, kiranya cukup relevan untuk diungkapkan kembali “paradigma lama” tentang pendidikan, yakni pendidikan sebagai pewarisan nilai-nilai. Warisan nilai-nilai budaya masa lalu itu tidak sedikit yang berisi nilai-nilai pendidikan karakter. Substansi-materi pendidikan karakter tidak lain adalah nilai-nilai moral, baik yang bersifat universal maupun lokal kultural, baik moral, kesusilaan maupun kesopanan.

Memang, paradigma pendidikan di masa lalu bukanlah pendidikan untuk perubahan sebagaimana pendidikan dalam paradigma modern, bahkan sebaliknya, yakni pendidikan untuk pewarisan dan pelestarian nilai-nilai. Durkheim, seorang ahli sosiologi moralitas menyebutnya sebagai the conservation of a culture inherited from the past. Meski paradigma pendidikan semacam ini dianggap kuno atau konservatif, namun sangat relevan untuk solusi perbaikan moralitas bangsa sebagaimana yang terjadi dalam beberapa dekade belakangan ini.

Bagi masyarakat Jawa di masa lampau, pewarisan dan pelestarian nilai-nilai tersebut bisa diwujudkan melalui pembudayaan karakter yang berbasiskan budaya lokal. Beragam cara pembudayaan dilakukan oleh leluhur Jawa kala itu, mulai dari: kegiatan bermain, tetembangan, sastra hingga kegiatan sosial kemasyarakatan yang penuh dengan nuansa kearifan lokal. Dari beragam kegiatan tersebut, yang banyak dilakukan untuk membangun karakter generasi muda pada zaman dahulu adalah kegiatan tetembangan (seni budaya). Melalui kegiatan seni budaya tersebut, anak-anak di Jawa dikenalkan nilai-nilai moral, etika, susila, kesopanan dan nilai-nilai luhur lainnya. Kemudian mereka mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kesehariannya sebagai sebuah pakulinan (kebiasaan).

Paradigma tersebut selaras dengan apa yang diungkap oleh Mangkunegara IV dalam Sêrat Wedhatama I.1 pada pupuh Pangkur yang berbunyi: “mingkar mingkuring angkara, akarana karênan mardi siwi, sinawung résmining kidung, sinuba sinukarta, mrih krêtarta pakartining ngélmu luhung, kang tumrap néng tanah Jawa, agama agêming aji”. Jika diterjemahkan secara bebas têmbang Pangkur ini mempunyai makna sebagai berikut: “Menghindarkan diri dari angkara, bila akan mendidik putra, dikemas dalam keindahan syair (têmbang), dihias agar tampak indah, agar tujuan ilmu luhur ini tercapai. Kenyataannya di tanah Jawa, agama dianut raja”.

Tembang di atas mengamanatkan kepada kita bahwa untuk mendidik anak-anak bangsa ini diperlukan energi positif yang  bebas dari hawa nafsu dan angkara murka (mingkuring angkara). Seorang guru harus menghindari kekerasan baik fisik maupun non fisik seperti melalui kata-kata kasar atau pun yang bersifat penghinaan. Akan lebih baik lagi jika dilakukan atau dikemas dalam bentuk seni budaya, seperti têtêmbangan dan sebagainya (sinawung résmining kidung). Selanjutnya guru juga harus bisa menghargai anak-anak didiknya dengan cara yang patut (sinuba-suba). Dengan cara seperti itu maka anak akan tumbuh secara baik dan cemerlang (subha). Sehingga nantinya ia tidak hanya bisa menguasai ilmu pengetahuan yang luhur tetapi juga mampu mengamalkannya secara bijak (wikan wicaksana). Selanjutnya untuk menyempurnakan ilmu pengetahuan itu, maka diperlukanlah agama yang menjadi pondasi dari pengetahuan itu sendiri (agama agêming aji).

Pendalaman terhadap ajaran-ajaran agama seharusnya tidak dilakukan secara terpisah dengan ilmu pengetahuan dan seni budaya. Agama yang tidak mengenal seni budaya dan ilmu akan menjadi kering dan merana. Ada pepatah yang mengatakan: dengan agama hidup menjadi lebih terarah, dengan ilmu pengetahuan hidup menjadi lebih mudah dan dengan seni hidup menjadi lebih indah. Untuk itulah maka sudah seharusnya manusia memiliki keseimbangan dalam  pemahaman agama, ilmu pengetahuan dan seni.

Agama, seni dan ilmu pengetahuan atau disingkat ASI ini diperlukan untuk menjadikan anak-anak bangsa menjadi anak-anak yang cerdas dan berbudaya. Mereka yang terlahir dari rahim lembaga pendidikan harus mendapatkan ASI yang baik dari para gurunya. Sebaliknya guru pun juga harus memberikan ASI tersebut dengan kasih sayang sebagaimana seorang ibu yang menyusui anaknya dengan penuh cinta. Dengan kandungan gizi-gizi kebudayaan dalam ASI itulah maka anak-anak didik tersebut dapat tumbuh menjadi manusia yang utuh baik intelektual maupun mental spiritualnya.

Melihat berbagai fenomena degradasi moral yang terjadi belakangan ini, maka diperlukan urgensitas upaya-upaya untuk membangun karakter yang berbudaya melalui pemberian ASI yang baik. Jika sudah terlambat atau terlanjur rusak maka akan sangat sulit untuk membangun generasi berbudaya sebagaimana yang dikatakan oleh Paku Buwono IV melalui têmbang Gambuh dalam Serat Wulang Reh III.1 yang berbunyi: sekar gambuh ping catur, kang cinatur polah kang kelantur, tanpa tutur katula-tula katali, kadaluwarsa katutuh kapatuh pan dadi awon (terjemahan : tembang Gambuh yang ke empat, yang dibicarakan perbuatan yang menyimpang, tanpa nasehat terjerat sengsara, jika terlambat menuturinya akan jadi kebiasaan yang buruk).

Upaya-upaya nyata yang bisa dilakukan saat ini adalah dengan membudayakan kembali kearifan-kearifan lokal yang bisa dilakukan oleh anak-anak seperti: membiasakan bahasa Jawa dengan unggah-ungguhing basa yang baik setiap harinya, menggalakkan kembali lagu-lagu atau têmbang dolanan, membuka kembali kran untuk permainan tradisional bagi anak-anak dan masih banyak lagi lainnya. Dan yang terpenting pemerintah dan masyarakat harus mengapresiasi upaya-upaya tersebut dengan memberikan ruang gerak yang cukup bagi perkembangan seni budaya yang ada di masyarakat. Dengan begitu vibrasi-vibrasi positif yang digetarkan dari seni budaya lokal tersebut, maka para generasi kita akan menjadi generasi yang berbudaya dan tentunya juga berkarakter.

* Penulis adalah Ketua LPMP Pandu Nusa

Tinggalkan Balasan