PEMBELAJARAN AGAMA HINDU BERBASIS DARING DENGAN MENGOPTIMALKAN 3 M (MEDIA,METODE, DAN MATERI) DI MASA PANDEMI COVID 19

Desak Ketut Rediani, S.Pd
SD Negeri 1 Menyali, Kecamatan Sawan,Kabupaten Buleleng,Bali 81171
Email: redianidesakketut@gmail.com HP:087762978602

Pendahuluan

Pandemi Covid 19 banyak merubah tatanan kehidupan, salah satunya tatanan pendidikan. Itu ditunjukkan dengan upaya Kemendikbud meluncurkan program “belajar dari rumah” sebagai alternatif belajar di tengah pandemi virus corona (Covid 19), sejak 16 Maret 2020 pemerintah memutuskan agar siswa-siswinya belajar dari rumah dengan harapan dalam kondisi darurat seperti sekarang ini peserta didik terus mendapatkan haknya dalam mendapatkan ilmu pengetahuan secara formal.

Tidak bisa dibantah, banyak guru pendidikan agama Hindu belum mengenal apa itu pembelajaran jarak jauh dan bagaimana melakukannya, demikian pula dengan siswa masih belum familiar dengan pembelajaran jarak jauh. Melihat kondisi ini, pemerintah bergerak cepat dan berusaha mensosialisasikan pembelajaran jarak jauh dan direspon positif oleh sekolah-sekolah dengan melakukan kegiatan pelatihan dalam mengembangkan kompetensi guru dalam mengoptimalkan pembelajaran daring atau online learning sebagai solusi pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan perangkat komputer atau gadget dimana guru dan siswa berkomunikasi secara interaktif dengan memanfaatkan media komunikasi dan informasi.

Kendala ketika pembelajaran daring adalah pola kebiasaan cara belajar mengajar siswa dan guru yang sudah terbiasa belajar secara konvensional. Guru masih belum terbiasa mengajar dengan memanfaatkan media daring kompleks yang harus dikemas dengan efektif, mudah diakses dan dipahami oleh siswa. Sedangkan siswa sangat membutuhkan budaya belajar mandiri dan kebiasaan untuk belajar mengikuti komputer atau gadget.

Guru dituntut untuk mampu merancang atau mendesaian pembelajaran daring yang ringan dan efektif, dengan memanfaatkan perangkat atau media daring yang tepat dan sesuai dengan materi yang di ajarkan. Sehingga pembelajaran tetap bisa terlaksana dan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan baik sesuai Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Dalam Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019.

Pembelajaran daring akan memberikan kesempatan lebih luas dalam mendeskripsikan yang akan diajarkan. Guru harus mampu memilih dan membatasi sejauh mana cakupan materinya dan aplikasi apa yang cocok pada materi dan metode belajar yang digunakan mengingat pengetahuan agama Hindu yang dipelajari para peserta didik menjadi sumber nilai dan penggerak perilaku mereka. Sekadar contoh, di antara nilai budi pekerti dalam agama Hindu dikenal dengan Tri Marga (bakti kepada Tuhan, orang tua, dan guru; karma, bekerja sebaik-baiknya untuk dipersembahkan kepada orang lain dan Tuhan; Jnana, menuntut ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal hidup dan penuntun hidup), dan Tri Warga (dharma, berbuat berdasarkan atas kebenaran; artha, memenuhi harta benda kebutuhan hidup berdasarkan kebenaran, dan kama, memenuhi keinginan sesuai dengan norma-norma yang berlaku). Dalam pembentukan budi pekerti, proses pembelajarannya mesti mengantar mereka dari pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan.

Secara proses, sebenarnya model pembelajaran modern ini sudah diatur dalam Permendikbud No 22 Tahun 2016 tentang standar proses dengan prinsip sebagai berikut, dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multidimensi. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills).

Gayung bersambut, pembelajaran Daring di tengah pandemi Covid-19 dapat dilaksanakan oleh guru SD Negeri 1 Menyali, Kabupaten Buleleng. Proses pembelajaran daring diprogramkanpada tanggal 27 Agustus 2020 lalu. Dalam program ini diatur bagaimana proses pembelajaran Daring dan Luring diselaraskan agar tidak menekan siswa dan memberikan kemerdekaan belajar  pada siswa, namun tetap mengacu pada kurikulum yang ditetapkan. Melalui wawancara, 8 Oktober 2020 Kepala SD Negeri 1 Menyali menjelaskan “Saat ini peserta didik dapat belajar tidak hanya dimana saja tetapi sekaligus kapan saja dengan fasilitas sistem electronik learning yang ada. Data ini didukung dengan pendataan peserta didik SD Negeri 1 Menyali yang bisa mengikuti pembelajaran Daring sebesar 95,87% dan 4,13% siswa yang lain mengikuti pembelajaran Luring dengan tetap mengikuti protokol kesehatan”.

Pembelajaran Daring juga tetap mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan materi keteladanan (ing ngarso sung tulado), membangun kemauan(ing madyo mangun karso) dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani).

Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah dan di masyarakat. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dimana saja adalah kelas. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatakan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.

Menghadapi tantangan pembelajaran agama Hindu di tengah pandemi Covid 19 dengan strategi pembelajaran yang inovatif merupakan tugas guru yang harus adaktif dengan perubahan, Pembelajaran adalah proses interaksi antarpeserta didik, antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 Pasal 19 menjelaskan bahwa ”Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi  peserta  didik  untuk  berpartisipasi  aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat serta perkembangan psikologis peserta didik”..

Pembelajaran Agama Hindu di Masa Pandemi (Covid 19)

Mata Pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti memiliki karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran lainnya. Mengapa? Karena memuat 5 (lima) aspek. Kelima aspek tersebut adalah Aspek Veda, Aspek Tattwa, Aspek Ethika/Susila, Aspek Acara dan Aspek Sejarah Agama Hindu. Dari 5 (lima) aspek Mata Pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti dapat membangun karakteristik sebagai berikut. 1). Mata Pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti merupakan pendidikan dalam usaha membentuk kepribadian yang berakhlak mulia, meyakini Sang Hyang Widhi sebagai sumber segala yang ada dan yang akan ada. Oleh karena itu, Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti dijadikan kompas hidup, serta pedoman hidup dan kehidupan (way of life). 2). Mata Pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti memuat kajian komprehensif bersifat holistik terhadap seluruh proses kehidupan pada dua dimensi tempat skala- niskla atau alam semasih hidup dan alam setelah kematian. Mengemban dan mengisi seluruh proses hidup dan kehidupan di dunia nyata/skala bertumpu pada visi moksartam jagathita ya ca ithi dharma, yaitu sampai pada kehidupan yang sejahtera, teduh, damai dan bahagia. Visi tersebut dijabarkan melalui misi membangun karakter yang penuh sraddha dan bhakti.

Berdasarkan teleconference yang diadakan oleh Dirjen Bimas Hindu, 6 Oktober 2020, dalam agendamenyapa Guru Agama Hindu dan Pengawas, membahas tentang permasalahan yang di hadapi Guru-Guru Agama Hindu di lapangan pada jaman milenial ini. beberapa materi yang disampaikan antara lain Pembinaan Umat Hindu dimana adanya keterbatasan sumber daya dalam pembinaan umat Hindu di Indonesia sehingga solusi bagaimana untuk memantapkan pembinaan umat Hindu di seluruh nusantara untuk memperkuat moderasi beragama yang berkualitas.Beberapa hal juga dibahas selama teleconference berlangsung yakni di masa pandemi Covid-19 ini, diharapkan proses pembelajaran daring/online yang dilaksanakan oleh guru dengan muridnya tetap berjalan dengan baik tanpa mengurangi makna dari proses pembelajaran yang biasanya dilakukan secara tatap muka.  Diharapkan pula kriteria Guru masa depan yakni no gaptek, kreatif, menarik, update dan networking, mengingat perubahan akan terus ada terutama dalam bidang teknologi informasi. Seluruh peserta yang hadir untuk mengikuti teleconference ini saling berdiskusi, menyampaikan pendapat dan sharing dalam upaya menambah pengetahuan dan solusi terhadap apa yang dibahas bersama. 

Mata Pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran interaktif terpadu yang bersifat   demokratis, humanis, fungsional, dan kontekstual sesuai  dengan yuga-yuga atau  periodisasi masa kehidupan dalam agama Hindu. Pada masa Kali-Yuga dimana perilaku kebaikan (dharma) persentasenya lebih kecil dibandingkan persentase perilaku negatif (adharma). Oleh karena itu,  strategi pembelajaran melalui metode Daring terhadap peserta didik di masa pandemi (covid 19) harus dikemas sebaik mungkin agar menjadi pendekatan pembelajaran yang menekankan pada peranan dan fungsi agama sebagai inspirasi dan motivasi berperilaku seperti yang ada dalam ranah Kompetensi Inti agar dalam keseharian berperilaku, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, pendidik, dan lingkungan.

Pembelajaran Agama Hindu di masa pandemi tetap menekankan Imperensial, yaitu pola pendekatan menjadikan peserta didik secara intens mengembangkan religiusitasnya dalam kehidupan sehari-hari dari berpikir, berkata dan berbuat. Karena meyakini keberadaan Sang Hyang Widhi disetiap ruang dan waktu, pada akhirnya akan berimplikasi pada perilaku jujur, murah hati, rendah hati, kasih yang mendalam dan selalu berkontribusi terhadap  kehidupan ini.

Pembelajaran Agama Hindu Daring dengan 3 M (Media,Metode, dan Materi)

Diantara masalah pembelajaran daring di Indonesia adalah besarnya gap akses masyarakat terhadap ketersediaan layanan internet di Indonesia (digital divide). Masyarakat yang tinggal di Pulau Bali cukup beruntung karena relatif meratanya infrastruktur internet, tetapi semakin ke luar Bali, apalagi Indonesia bagian timur, akses internet semakin memprihatinkan (Statistik Indonesia, 2018). Ada lebih 40 ribu sekolah di Indonesia bahkan berada di wilayah blankspot, wilayah yang sama sekali belum ada jaringan seluler.

Selain masalah infrastruktur jaringan internet yang belum merata di Indonesia, masalah pembelajaran daring di Indonesia juga terkait dengan gap kompetensi (competency divide) di kalangan guru. Cukup banyak guru yang belum sepenuhnya siap untuk melakukan pembelajaran daring ini. Data dari beberapa penelitian semisal studi Widodo & Riandi (2013 sebagaimana dikutip dalam Koh et al, 2018) menunjukkan bahwa kemampuan guru terkait penguasaan ICT sangat jomplang antar satu wilayah di Indonesia. Survey dari Kemendikbud (2020) juga mengungkap bahwa lebih 76% guru mengaku lemah dari sisi penguasaan teknologi digital untuk pembelajaran.

Karena ketidaksiapan ini, di awal-awal Covid tak sedikit guru yang secara sederhana melakukan pembelajaran daring dengan memberikan tugas yang bertumpuk kepada siswa. Survey dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada April 2020 menunjukkan bahwa mayoritas guru lebih banyak melakukan pembelajaran daring dengan memberikan penugasan kepada siiswa melalaui beberapa platform seperti whatsapp di awal-awal kewajiban belajar daring. Survey KPASI juga melaporkan bahwa 58,8% guru yang disurvey mengaku bahwa mereka memberikan tugas yang sama untuk semua siswa tanpa mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi dan personal siswa.

Memperhatikan beberapa fenomena di atas, menjadi sangat penting dan relevan bagi guru untuk membekali diri mereka dengan teori dan prinsip pembelajaran daring sebelum melaksanakannya. Guru dan dosen wajib terus belajar meningkat pemahaman dan kompetensi mereka terkait pembelajaran daring ini dengan segala variannya.

Mengoptimalkan 3 M (media, metode, dan materi). Media adalah terkait dengan platform apa saja yang bisa digunakan guru untuk memastikan pembelajaran daring bisa berjalan. Sudah sangat banyak webinar yang membahas ini. Baik yang dilakukan pemerintah, maupun beberapa lembaga swasta, dalam maupun luar negeri.

Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali, Ketut Ngurah Boy Jayawibawa seperti diberitakan Nusa Bali pada Minggu, 6 September 2020 lalu menyebutkan guru saat ini sudah semakin kaya dengan berbagai alternatif media atau platform yang bisa digunakan. Baik yang sederhana, maupun platform yang lebih canggih. Misalnya, what’sapp, blog, zoom, webex, google meet, messengger, instagram live, youtube live, g suite, moodle, edmudo, dan banyak lagi yang lain.

Beberapa sekolah bahkan mungkin sudah memiliki dan membangun sistem e-learning sendiri. That’s good! Setelah mengenal berbagai alternatif platform atau media pembelajaran online, yang tidak  kalah penting untuk dipelajari para guru dalam pelaksanaan pembelajaran daring adalah terkait M berikutnya, metode. Ini terkait bagaimana guru/dosen men-deliver konten secara efektif. Bagaimana guru bisa menyusun strategi pembelajaran (instructional strategies) daring yang notabene berbeda dengan pembelajaran luring ini secara efektif. Penting diingat bahwa berbagai macam platform itu, mulai dari yang sederhana seperti whatsapp sampai beberapa LMS yang agak kompleks seperti Moodle dan G Suite itu hanyalah media atau alat untuk memfasilitasi pembelajaran. Bukan penentu keberhasilan.

Sementara kualitas hasil pembelajaran tetap ditentukan oleh bagaimana guru men-deliver materi pembelajarannya. Tidak ada hubungan langsung antara kualitas hasil pembelajaran dengan bagus tidaknya platform yang digunakan. Ke depan, setelah mengenal berbagai macam media pembelajaran daring, berbagai webinar atau pelatihan yang diadakan perlu memperbanyak pembahasan ‘bagaimana’, tak lagi sekedar ‘apa’. Guru mesti memperkaya diri dengan berbagai ide kreatif tentang bagaimana membelajarkan siswa secara efektif dengan bertumpu pada jaringan internet dan komunikasi maya.

Terkait desain pembelajara daring, penting bagi guru untuk memastikan adanya interaksi, ada umpan balik, ada komunikasi yang terencana antar siswa dengan guru atau antara satu siswa dengan siswa yang lain selama masa pandemi. Dengan interkasi dan komunikasi yang efektif diharapkan tumbuhnya sense of community diantara siswa dan guru.

Guru juga perlu mendesain aktivitas pembelajaran yang variatif. Tidak hanya bertumpu pada video konferensi yang sinkronous, tetapi juga platform belajar dengan moda asinkronous. Guru juga perlu mempertimbangkan pemakaian teknologi yang hightech atau lowtech yang nanti akan berakibat pada pemakaian data siswa.

Pada saat yang sama, guru tentu perlu memperkaya M berikutnya, materi atau resources (materi ajar). Guru juga harus bergerak dan mengakselerasi kemampuannya untuk mencari atau bahkan membuat materi ajar digital. Setidaknya pandai mendigitalisasi materi yang sebelumnya manual. Pelatihan pembuatan konten digital menjadi juga penting dilakukan. Guru  perlu membekali diri mereka dengan skill video editing, misalnya. Termasuk bagaimana menyimpan dan mendesiminasi konten digital mereka melalui berbagai platform yang tak hanya bisa diakses secara terbatas oleh siswa, tetapi juga oleh siswa lain.

Seperti diberitakan Nusa Bali pada Rabu, 7 Oktober 2020 lalu menyebutkan Kementerian Agama Kabupaten Karangasem menggelar pembinaan kepada guru agama Hindu tingkat SD di aula Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hindu, Jalan Ngurah Rai Amlapura, Peserta pembinaan sebanyak 30 orang dari delapan kecamatan se-Kabupaten Karangasem.

Mereka dibina menyusun bahan ajar berbasis informasi dan teknologi (IT). Kakanwil Kementerian Agama, Komang Sri Marhaeni, sebagai pemateri mengatakan kebijakan pembelajaran di masa pandemi Covid-19 secara online. Sehingga tidak perlu lagi melakukan tatap muka. Sebanyak 30 guru dari delapan kecamatan yang hadir merupakan perwakilan dari kecamatan. Guru bersangkutan nantinya diminta menggetoktularkan ilmu yang didapatkan selama mengikuti pembinaan. Disebutkan, ada beberapa teknik menyusun bahan ajar, baik untuk tatap muka maupun secara online. Susunan bahan ajar harus menarik, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, mampu menguji pemahaman, adanya stimulan, mudah dibaca, dan ada materi instruksional.

Sampai di sini porsi webinar yang biasanya lebih banyak ‘satu arah’ perlu dikurangi. Kegiatan seperti pelatihan (workshop) online yang memungkinkan peserta bekerja dan berlatih perlu diperbanyak. Mari terus bersemangat untuk belajar. Jadikan keterbatasan karena Covid sebagai peluang untuk mempelajari banyak hal. Semakin banyak yang dipelajari guru, semakin besar peluangnya untuk melaksanakan pengajaran yang lebih efektif. Tetap terus bergerak. Jika pandemi ini adalah badai, maka cara terbaik bertahan di tengah badai adalah dengan tetap bergerak ke depan. Bukan diam. Apalagi mundur. Pun, begitu dengan kita para insan pendidikan agama Hindu. Terus belajar 3M di atas adalah cara kita bertahan di tengah badai pandemi.

Penerapan Pembelajaran Agama Hindu Berbasis Daring.

Widya Sastra Sudharma Pinaka De Pada Ikanang Tri Buana”, artinya Pengetahuan sastra bersumber dari tiga hal utama yang dapat meresapi Alam semesta beserta isinya. Tiga hal utama yang dapat menjadi sumber dari pengetahuan antara lain : Sastratah, Gurutah dan Swahtah. Sastratah merupakan Sumber Pengetahuan menurut refrensi sastra, literatur, kitab, lontar dst. Gurutah sumber dari pengetahuan berpedoman pada guru, yang mana disebut Guru?, selain Tri Kasinanggah Guru tiada lain yakni Seluruh Elemen Alam Semesta ini adalah Guru yang Utama (Sarwa Byogatah Guru) bahkan Pengalaman Hidupun merupakan guru utama sering diistilahkan “Experience is the best Teacher”, kemudian Swahtah ini mengacu pengalaman, pengetahuan didapatkan langsung melalui pengalaman praktek/action. 

Tanpa Adanya Praktek setebal apapun buku yang dibaca maupun dihafalkan tidak ada artinya tanpa action konkreat. Pengetahuan hanya ditataran permukaan saja yang dijadikan komoditi Show Up semata, atau hafalan – hafalan saja. 

Begitu juga dalam lingkungan pendidikan Hindu yang diiikat oleh adanya Unsur Tripitama yakni Tiga Pilar Utama yaitu Tattwa, Susila dan Acara. Ditengah derasnya arus Pandemi Covid-19 ini menerpa Tri Pitama Hadir sebagai Tonggak untuk menggantikan fase peradaabaan manusia dari dulunya “nyengker dewek” atau berdiam diri dirumah saja, sekarang sudah beralih ke fase New Normal, namun kendalanya sangat banyak apabila akan terjadinya New Normal, resikonya sangat besar, namun seiring dengan kebiasaan yang dilakukan sesuai dengan Protap kesehatan dan masyarakat disiplin maka akan tercipta New Normal sesuai ekspektasi. 

Tapi baru – baru ini kemendikbud mengeluarkan surat edaran nomor 15 tahun 2020 yang mencantumkan dan berdasarkan atas Permendibud Nomor 33 tahun 2019 tentang Satuan Pendidikan Aman  Bencana saat covid-19 yang menganjurkan kepada  semua Steakholder didalam dunia pendidikan untuk selalu melaksanakan Pembelajaran Daring dan Luring yaitu Pembelajaran Dalam Jaringan dan Pembelajaran di Luar Jaringan melalui system PJJ (pembelajaran Jarak Jauh). Tentu dalam Hal ini Pendidikan Hindu menyikapi akan mengikuti anjuran pemerintah dalam ini mengupayakan Pembelajaran dari berjalan Kondusif dan Efisien.

Pendidikan Hindu mengambil langkah High Order Thinking Skiill (HOTS) yaitu salah satu metode cara berpikir radic (Mendalam, Kritis) menyikapi instruksi pemerintah dengan menerapkan pembelajaran yang mengarahkan paa kontekstual learning misalnya, memohon kepada orang tua untuk memvideokan anak – anaknya saat metanding banten saiban, Mendokumentasikan anak – anaknya untuk metanding canang, bersih – bersih dihalam rumah, membantu memberishkan lingkungan di Sanggah Kemulan. 

Ini adalah salah satu media untuk selalu melakukan perubahan cara berpikir dalam dunia pendidikan bahwa pendidikan tidak semata – mata mencarii nilai atau kompetisi semata tapi lebih pada kreativitas dalam melakukan kecapakan hidup. Pendidikan hindu mengambil langkah untuk menyirami mental dan spirit siswa hindu dari sisi kerohanian melalui cara kecapakan hidup, misalkan selalu membiasakan anak sembahyang disore hari yakni puja tri sandya ini salah satu penerapan yang sangat luar biasa pada anak. Pendidikan dari nilai hidup lebih penting ketimbang nilai di atas kertas atau diatas rapot. Kita patut sebagi pulic menilai sisi new normal pendidikan yang masih di rumah saja dari sisi yang berbeda. 

Jika hanya nyaman pada zona yang monoton maka menjadikan generasi ernas ini terkungkung dan kurang kreatif serta inovatif maka peranan keluarga penting untuk merepakan 3 M (Media,Metode, dan Materi) yang inovatif dalam ajaran agama didasarkan pada Darsana yaitu mencari pengetahuan kebenaran dengan sudut pandang yang saling berbeda satu dengan lain. 

Jadi solusi yang ditawarkan dan bisa dijadikan pertimbangan kembali untuk dipilah terlebih dahulu dan dipilih solusinya sesuai kepentingan di dalam dunia pendidikan antara lain  (1) Bangun suasana belajar bersama di dalam keluarga bahwa orang tua mau mendengarkan keluh kesah anak dalam belajar dan diberikan materi ajar dari sekolahnya secara online (2)Tingkatkan Sradha dan bhakti serta mulat sarira didalam Keluarga dan selalu melaksanakan metode HOTS (3) Selalu pergunakan rasa dan rasio serta raga dalam mengambil keputusan dalam bertindakan terhadap kesehatan pribadi yang dimiliki, (4) prioritaskan belajar konkret (nyata) mengenai hidup daripada konsep yang tinggi, (5) Lihatlah peluang kerja dan belajar untuk bisa survive hidup dalam keluarga ditengah wabah covid-19 ini.

Simpulan

Mata Pelajaran Agama Hindu dan Budi Pekerti menggunakan beberapa pendekatan pembelajaran interaktif terpadu yang bersifat   demokratis, humanis, fungsional, dan kontekstual sesuai  dengan yuga-yuga atau  periodisasi masa kehidupan dalam agama Hindu. Pada masa Kali-Yuga dimana perilaku kebaikan (dharma) persentasenya lebih kecil dibandingkan persentase perilaku negatif (adharma). Oleh karena itu,  strategi pembelajaran melalui metode Daring terhadap peserta didik di masa pandemi (covid 19) harus dikemas sebaik mungkin agar menjadi pendekatan pembelajaran yang menekankan pada peranan dan fungsi agama sebagai inspirasi dan motivasi berperilaku seperti yang ada dalam ranah Kompetensi Inti agar dalam keseharian berperilaku, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, pendidik, dan lingkungan.

Pembelajaran Agama Hindu Daring dengan 3 M (Media,Metode, dan Materi) guru bisa mengenal berbagai alternatif platform atau media pembelajaran menggunakan what’sapp, blog, zoom, webex, google meet, messengger, instagram live, youtube live, g suite, moodle, edmudo dan disesuaikan dengan metode yang sesuai dengan cakupan materi yang diajarkan karena Selain Media  dan metode kualitas hasil pembelajaran tetap ditentukan oleh bagaimana guru men-deliver materi pembelajarannya.

Penerapan Pembelajaran Agama Hindu berbasis Daring meliputi (1) membangun suasana belajar bersama di dalam keluarga bahwa orang tua mau mendengarkan keluh kesah anak dalam belajar dan diberikan materi ajar dari sekolahnya secara online (2)Tingkatkan Sradha dan bhakti serta mulat sarira didalam Keluarga dan selalu melaksanakan metode HOTS (3) Selalu pergunakan rasa dan rasio serta raga dalam mengambil keputusan dalam bertindakan terhadap kesehatan pribadi yang dimiliki, (4) prioritaskan belajar konkret (nyata) mengenai hidup daripada konsep yang tinggi, (5) Lihatlah peluang kerja dan belajar untuk bisa survive hidup dalam keluarga ditengah wabah covid-19 ini.

Daftar Pustaka

Anggrawan, A. (2019). Analisis Deskriptif Hasil Belajar Pembelajaran Tatap Muka dan Pembelajaran Online Menurut Gaya Belajar. MATRIK: Jurnal Manajemen, Teknik Informatika Dan Rekayasa Komputer, 18(2), 339-346. https://doi.org/10.30812/matrik.v18i2.411

Anggereini, E. (2017). Asif, A. R., & Rahmadi, F. A. (2017). Hubungan tingkat kecanduan gadget dengan gangguan emosi dan perilaku remaja usia 11-12 tahun (Doctoral dissertation, Faculty of Medicine). Astuti, P., & Febrian, F. (2019). Blended Learning Syarah: Bagaimana Penerapan dan Persepsi Mahasiswa. Jurnal Gantang, 4(2), 111- 119. https://doi.org/10.31629/jg.v4i2.1560

Bell, D., Nicoll, A., Fukuda, K., Horby, P., Monto, A., Hayden, F., … Van Tam, J. (2006). Nonpharmaceutical interventions for pandemic influenza, national and community measures. Emerging Infectious Diseases. https://doi.org/10.3201/eid1201.051371

Dar, 2020. “Kakanwil Kementerian Agama, Komang Sri Marhaeni”. Nusa Bali, 7 Oktober, hal: 1.

NB, 2020. “Dirjen Bimas Hindu Menyapa Guru Agama Hindu”. Nusa Bali, 7 Oktober, hal: 1.

Naserly, M. K. (2020). Implementasi Zoom, Google Classroom, Dan Whatsapp Group Dalam Mendukung Pembelajaran Daring (Online) (Studi Kasus Pada 2 Kelas Semester 2, Jurusan Administrasi Bisnis, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bina Sa. Aksara Public, 4(2), 155-165.

https://www.nusabali.com/berita/80573/potensi-wisata-lokal-the-spirit-of-sobean-mulai-dipetakan

Tinggalkan Balasan