PENGAMALAN DHARMA SEBAGAI IMPLEMENTASI CATUR PURUSA ARTHA UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN DAN KESUKSESAN HIDUP

Made Eni Marwasih
marwasihsdn1@gmail.com
SD Negeri 1 Restu Rahayu, Kec. Raman Utara, Kab. Lampung Timur

Pendahuluan

Kitab Sarasamuscaya menerangkan bahwa kelahiran menjadi manusia merupakan suatu kesempatan yang terbaik untuk memperbaiki diri. Manusialah yang dapat memperbaiki segala tingkah lakunya yang dipandang tidak baik agar menjadi baik, guna menolong dirinya dari penderitaan dalam usahanya mencapai tujuan hidupnya.

Tujuan hidup menurut agama Hindu adalah moksartham Jagadhita ya, ca iti dharma. Artinya semua umat Hindu bertujuan untuk mencapai kebahagiaan baik yang ada di dunia ini maupun yang kekal setelah mati berdasarkan ajaran dharma. Oleh karena itu, dharma dikatakan sebagai pandangan hidup dan pedoman hidup bagi umat Hindu.

Melalui dharma tersebut umat Hindu akan memahi cara menjalani hidup secara damai dan Bahagia. Hidup secara damai artinya bisa menebarkan kedamaian bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk dunia. Hidup bagian berarti bisa hidup Bahagia dan membuat orang atau makhluk lain bahagian (agawe sukaning len). Dengan begitu maka manusia akan bisa mencapai jagadhita (kebahagiaan dan kesejahteraan dunia). Kesemuanya ini akan membantu manusia mencapai tujuan pembebasan dari siklus samsara atau yang disebut moksa.

Dharma dan moksa sendiri merupakan bagian dari Catur Purusa Artha, salah satu ajaran dalam Hindu. Ajaran Catur Purusa Artha menekankan kepada manusia untuk dapat mencapai tujuan hidupnya secara seimbang. Hal ini akan terwujud ketika manusia bisa mencapai kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidupnya. Berangkat dari uraian di atas, maka tulisan ini akan difokuskan untuk bagaimana supaya manusia bisa mencapai tujuan hidupnya dengan berlandaskan dharma.

Meniti Dharma

Dharma berasal dari akar kata ‘dhr’ yang berarti menjinjing, memelihara, memangku atau mengatur. Kata dharma dapat berarti ‘sesuatu yang mengatur atau memelihara dunia beserta semua makhluk’. Segala hal yang mengatur atau memelihara dunia dalam Hindu selalu terkait dengan ajaran-ajaran suci yang bersumber dari pustaka suci Weda.

Di samping itu dharma sendiri merupakan bagian dari ajaran Catur Purusa Artha yang menjadi tujuan setiap umat Hindu. Dengan dharma ini, umat Hindu akan dituntun untuk dapat menjaga dan memelihara segala perilakunya agar mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun nanti setelah meninggalkan dunia.

Dari penjelasaan di atas, maka manusia yang sudah menjaga kewajibannya dengan baik dikatakan telah melaksanakan swadharma-nya. Mereka yang memelihara dan mengatur hidupnya untuk dharma akan mendapat jagadhita dan moksa pada akhirnya. Jika dharma dilakukan dengan baik, maka artha, kama, dan moksa akan diperoleh kemudian. Sebaliknya jika dharma diabaikan, maka artha dan kama pun akan lari meninggalkannya. Hal ini sebagaimana disebut dalam Sarasamuscaya 12:

कमर्थौ लिप्समानस्तु धर्ममेवादितश्चरेत् । नहि धर्मादपेत्यार्थः कामो वपि कदाचन ॥
Bila seseorang ingin mendapatkan kama dan artha harus melaluinya dengan melaksanakan dharma. Dengan mengabaikan dharma tidak akan ada artha pun pada kama.

Tidak akan ada artinya jika artha dan kama itu diperoleh menyimpang dari dharma. Pernyataan di atas menekankan bahwa jika dharma harus dilaksanakan, maka artha dan kama datang dengan sendirinya. Bila petunjuk suci itu dapat dijalani dalam hidup ini berarti telah dapat memfungsikan dharma dalam kehidupan ini. Hal ini perlu diupayakan agar umat Hindu memiliki panduan cara menjalani kehidupan yang baik dan tepat, sehingga dapat menjalani kehidupan ini secara baik dan positif. Disamping itu mereka dapat terjaga agar tidak terjerumus untuk melakukan karma-karma buruk yang akan menyebabkannya terjerat dalam lautan samsara.

Penerapan dharma dalam kehidupan sehari-hari bisa dipraktikkan melalui pelaksanaan kewajibannya. Seorang laki-laki menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya dan sekaligus menjadi suami yang mulia bagi istrinya. Seorang wanita menjadi ibu yang hebat bagi anak-anaknya dan sekaligus istri yang baik bagi suaminya. Mereka yang menjadi anak selalu berbhakti kepada orang tuanya. Setiap anggota keluarga menjalankan swadharma-nya dengan baik. Apapun profesinya harus dijalankan dengan baik. Dengan begitu maka Hyang Widhi Wasa akan melimpahkan berkat-Nya berupa artha yang melimpah, kama yang tidak akan habis, serta moksa yang akan diraihnya nanti.

Menata Artha dan Kama

Artha dalam Catur Purusa Artha mempunyai beberapa makna. Dalam kata ‘purusa artha’, kata ‘artha’ berarti ‘tujuan’. Umat Hindu ingin mencapai tujuan tertinggi yang disebut sebagai parama artha (paramartha). Selain itu kata ‘artha’ juga dapat diartikan sebagai ‘benda-benda, materi, atau kekayaan sebagai sumber kebutuhan duniawi yang merupakan alat untuk mencapai kepuasan hidup’. Artha merupakan pelengkap hidup yang memiliki berbagai fungsi dalam kehidupan beragama.

Dalam kehidupan keagamaan Hindu artha dapat digunakan untuk beryajña. Setiap mat Hindu yang mau melaksanakan Panca Yajña pasti akan membutuhkan uang atau artha. Semua pelaksanaan yajña baik Dewa Yajña (korban suci kepada Hyang Widhi Wasa beserta manifestasi-Nya), Manusa Yajña (korban suci untuk kesejahteraan umat manusia), Pitra Yajña (korban suci ke hadapan para leluhur), Rsi Yajña (korban suci terhadap para Rsi atau para guru), dan Bhuta Yajña (korban suci ke hadapan para Bhuta Kala) membutuhkan artha sebagai sarananya.

Mencari artha adalah hal yang baik dan mulia. Setiap orang yang hidup di dunia tentu harus selalu mengupayakan untuk mendapatkan artha. Sarana kehidupan yang diperlukannya tidak akan terpenuhi manakala artha tidak ada. Lebih-lebih di zaman sekarang yang menurut para pujangga, cenderung orang-orang yang memiliki banyak artha akan dihargai di dunia ini.

Kakawin Nitisastra IV.7 menyebutkan: “singgih yan têkaning yugānta kali tan hana lêwiha sakéng mahādhana, tan wāktan guṇa śūra paṇḍita widagdha paḍa mangayap ing danéśwara, sakwéhning rinahasya sang wiku hilang kula ratu paḍa hina kāsyasih, putrādwé pita niṇḍa ring bapa si śūdra banija wara wīrya paṇḍita (Sesungguhnya, bila Jaman Kali datang pada akhir Yuga, hanya kekayaan yang dihargai. Tidak perlu dikatakan lagi, bahwa orang yang saleh, orang yang pandai, akan mengabdi kepada orang kaya. Semua pelajaran pendeta yang gaib-gaib dilupakan orang, keluarga-keluarga yang baik dan raja-raja menjadi hina papa. Anak-anak akan menipu dan mengumpat pada orang tuanya, orang hina dina akan menjadi saudagar, mendapat kemuliaan dan kepandaian)”. Meskipun demikian bukan berarti artha bisa mengalahkan segalanya termasuk dharma. Sebaliknya dharma harus tetap menjadi pedoman dalam mencari artha.

Sebagai penganut dharma, maka umat Hindu harus menjauhi cara-cara mencari artha yang bertentangan dengan semua norma, baik agama, hukum, kesusilaan, dan sebagainya. Cara-cara seperti: mencuri, menipu, korupsi, bisnis narkoba, prostitusi, dana sebagainya harus benar-benar dijauhi agar perjalanannya mencapai Catur Purusa Artha berada pada jalan yang tepat. Jika tidak, maka kehidupannya tidak akan tenang dan penuh keselamatan. Di samping karma-karma buruk yang ditanamnya akan berbuah kesengsaraan baik di dunia maupun kelak setelah meninggal dunia.

Artha dapat diperoleh secara langsung maupun tidak langsung. Artha yang diperoleh secara langsung adalah yang dapat dipetik saat itu juga. Seseorang yang swadharmanya sebagai pemelihara lembu, dapat menikmati hasil panennya berupa susu lembu itu. Petani yang menanam padi dan sayur-sayuran akan dapat langsung menikmati hasil panennya.

Sebaliknya artha yang diperoleh secara tidak langsung adalah yang dapat didapat melalui perantara. Sebagai contoh seorang ayah yang tekun mendidik anaknya dengan baik sejak kecil, di kemudian hari saat anaknya menjadi tokoh yang kaya dan terhormat, ia akan menikmatinya dalam bentuk nama baik. Dia pun akan dirawat oleh anaknya dengan baik, sehingga di masa tuannya kehidupannya berkecukupan.

Artha yang diperoleh dari hasil kerja keras dapat digunakan untuk memenuhi kama. Seberapa pun kama manusia, pastinya akan memerlukan dukungan artha, baik itu dalam jumlah besar atau pun kecil.

Kata ‘kama’ berarti ‘nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup’. Kepuasan atau kenikmatan tersebut memang merupakan salah satu tujuan atau kebutuhan manusia. Tujuan kama adalah kebahagiaan dan kenikmatan yang didapat melalui pañca indriya. Dengan kenikmatan indriya tersebut, maka manusia mendapat kebahagiaan secara duniawi. Selain itu kama itu juga menjadi sarana untuk mencapai kebahagiaan yang bersifat spiritual.

Meskipun demikian, pemenuhan kama tetap harus berlandaskan dharma. Kama yang berlandaskan dharma akan mengarahkan manusia pada kesenangan dan cinta kasih yang dilandasi dengan penuh keikhlasan. Cinta kasih semacam ini harus dipupuk terhadap sesama makhluk hidup di dunia ini. Terkait dengan cinta kasih ini, Hindu mengenalnya sebagai ‘Tri Parartha’ yang bagian-bagiannya adalah asih, punia, dan bhakti.  

Asih artinya ‘menyayangi dan mengasihi sesama makhluk sebagaimana mengasihi diri sendiri’. Manusia harus silih asah (saling menghargai), silih asih (saling mencintai), dan silih asuh (saling menghormati). Dengan ketiganya maka umat Hindu dapat menerapkan ajaran Tat Twam Asi di mana penghargaan terhadap humanisme menjadi hal yang utama sehingga terwujud suatu kerukunan, kedamaian, dan keharmonisan dalam kehidupan serta tercapainya masyarakat Jagadhita.

Punia artinya ‘cinta kasih kepada orang lain’. Sikap dan perilaku punia ini diwujudkan dengan selalu menolong dengan memberikan sesuatu (harta benda) yang dimiliki kepada orang lain yang membutuhkan. Punia dalam Hindu menjadi landasan untuk bisa saling peduli kepada sesama.

Bhakti artinya ‘cinta kasih dan pengabdian kepada Hyang Widhi Wasa. Sebagai umat yang diciptakan oleh Tuhan, manusia memiliki kewajiban untuk sujud berbakti kepada-Nya dalam bentuk pelaksanaan ajaran agama. Dengan bhakti ini, umat Hindu memantabkan sraddha-nya kepada Hyang Widhi Wasa.  

Dalam kehidupannya kama bisa berakibat baik atau pun buruk. Baik jika kama itu dilakukan dengan landasan dharma sebagaimana telah disebutkan di atas. Buruk jika kama tersebut tidak mengindahkan pedoman-pedoman dharma. Atau dengan kata lain kama menjadi bola api liar yang tidak terkendali sehingga bisa membakar apa saja yang dilaluinya.

Sebagai umat Hindu dan penganut dharma, sudah selayaknya mengendalikan kama ini dengan baik. Kama harus dijadikan sebagai kekuatan pendorong yang berguna untuk menggerakkannya agar mencapai kemajuan hidup, terutama yang berkaitan dengan melaksanakan tugas kewajiban atau swadharma-nya.

Kama yang tanpa kedali juga akan menjadi jebakan kehidupan. Bukannya dia mengendalikan kama, tapi dia yang dikendalikan oleh kama. Misalnya saja orang yang berselingkuh, korupsi, mereka yang tidak pernah merasa puas dan bersyukur, dan sebagainya adalah ciri-ciri orang yang berada dalam kendali kama. Orang yang dikendalikan oleh kama akan menjadi lemah dan tidak berdaya. Sering kali pula mereka akan menjadi gelap hati dan pikirannya.

Berdasar uraian di atas, kama selalu memiliki dua sisi ibarat sisi mata uang yang selalu berdampingan. Di satu sisi kama merupakan kekuatan penggerak motivasi dan kemajuan kehidupan, di sisi lain kama merupakan sumber kesengsaraan.

Menatap Moksa

Moksa berarti ketenangan dan kebahagiaan spiritual yang kekal abadi (suka tan pa wali dukha). Moksa adalah tujuan terakhir dari umat Hindu. Dalam bahasa mistik, moksa adalah bersatunya atman dengan Brahman. Ketika manusia menyatu dengan Tuhannya maka manusia akan mencapai alam kalanggengan atau keabadian. Mereka akan bebas dari punarbhawa atau samsara.

Moksa dapat diartikan juga sebagai mukti atau ‘kebebasan, kemerdekaan yang sempurna’.  Pencapain moksa dapat diartikan pula sebagai ‘kelepasan atau kemerdekaan jiwa’. Dalam konsep ini kelepasan itu bisa dicapai saat manusia masih hidup yang disebut sebagai jiwan mukta. Artinya manusia mencapai kelepasan itu saat dia masih berada di dunia. Di samping itu mukti juga bisa dicapai saat dia meninggal atau wideha mukta. Jika selama masih hidup seseorang itu mencapai moksa, maka ia telah mencapai tingkat moral yang tertinggi. Kehidupannya berlimpahkan kebahagiaan, kesejahteraan, dan kesenangan.

Manusia harus menyadari bahwa perjalanan hidup pada hakikatnya adalah perjalanan mencari Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), lalu bersatu dengan Tuhan. Perjalanan seperti itu penuh dengan rintangan, bagaikan mengarungi samudra yang bergelombang. Sudah dikatakan di atas bahwa ajaran agama telah menyiapkan sebuah perahu untuk mengarungi samudra itu, yaitu dharma. Hanya dengan berbuat berdasarkan dharma manusia akan dapat dengan selamat mengarungi samudra yang luas dan ganas itu. Hidup dan kehidupan ini tidak mudah melainkan penuh gejolak. Tetapi sekuat apa pun gejolaknya akan menjadi lebih ringan, kalau mau selalu berupaya melaksanakan tugas yang diberikan dalam kehidupan dengan sebaik-baiknya. Apa pun yang ditugaskan oleh kehidupan, lakukan yang terbaik.

Meskipun begitu, juga tidak jaminan semua keinginan manusia akan tercapai, karena ada wilayah kedua yang tidak menjadi wewenang manusia, yaitu wilayah semesta. Kerja, usaha, upaya, memang dapat merubah jalan kehidupan, tetapi tidak mutlak. Sehebat-hebatnya wilayah kerja selalu menyisakan wilayah kedua, yaitu wilayah semesta itu. Rgweda VII. 32. 9 menyebutkan:
मा स्रेधत सोमिनो दक्षता महे कृणुध्वं राय आतुजे ।
तरणिरिज्जयति क्षेति पुष्यति न देवासः कवत्नवे ॥
Wahai orang-orang yang berpikiran-mulia, janganlah tersesat. Tekunlah dan dengan tekad yang keras mencapai tujuan-tujuan yang tinggi. Bekerjalah dengan tekun untuk mencapai tujuan. Orang yang bersemangat berhasil, hidup berbahagia dan menikmati kemakmuran. Para dewa tidak menolong orang yang bermalas-malasan.

Simpulan

Tekun melaksanakan ajaran dharma, tidak saja akan menjadi penjaga, pelindung dan pembimbing manusia dalam mengarungi roda kehidupan. Tujuan mempelajari dan melaksanakan dharma adalah untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi kesengsaraan, serta bagaimana cara mencapai kedamaian dan kebahagiaan tertinggi. Sebagai bagian dari Catur Purusa Artha, dharma diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan dan kesuksesan hidup secara seimbang, duniawi dan spiritualnya.

Daftar Pustaka

­Hadikusuma, H. 1993. Antropologi Agama Bagian 1. Bandung: Citra Aditya Bakti

Honig Jr, A.G. 2015. Ilmu Agama. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Kurniawan, I Nyoman. 2016. Manah Shanti Kedamaian Sejati di Dalam Diri. Buku Moksha Tingkat 1 untuk Sadhaka Pemula dan Masyarakat Awam. Rumah Dharma-Hindu Indonesia.

Miswanto, 2015. Kakawin Nitisastra: Teks, Terjemahan dan Komentar. Surabaya: Paramita.

Suendi, I Nyoman. 2015. Pengendalian Diri, Etika dan Yajna dalam Ajaran Agama Hindu. Surakarta: LPPM Universitas Sebelas Maret.

Tinggalkan Balasan