Polemik HK

PERNYATAAN RESMI PENGURUS PUSAT PERKUMPULAN ACARYA HINDU NUSANTARA TERKAIT POLEMIK SAMPRADAYA HARE KRISHNA
Nomor: 424/PN.00/2020

ॐ स्वस्त्यस्तु ।

Om swastyastu,

Menyikapi polemik terkait sampradaya Hare Krishna (HK) yang belakangan ini menjadi viral dan berpotensi menyebabkan perpecahan di antara komponen umat Hindu, maka kami Pengurus Pusat Perkumpulan Acarya Hindu Nusantara (PP Pandu Nusa) menyampaikan beberapa pandangan sebagai berikut:

1.    Hindu adalah agama yang menerima dan menghargai perbedaan yang ada dalam setiap tradisi dan budaya keagamaan. Di atas semua perbedaan itu, kita harus mengedepankan sikap saling pengertian, saling menghargai, dan bersama-sama mewujudkan kerukunan antar penganut tradisi dan budaya keagamaan yang ada. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam beberapa sumber sastra Hindu di bawah ini:

a.     Rgweda X.191.4 menegaskan: “Milikilah perhatian yang  sama. Tumbuhkan saling pengertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan”.

b.    Atharwaweda III.30.4 menegaskan: “Bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah anugrahkan hal yang sama kepadamu, oleh karena itu ciptakanlah persatuan di antara kamu”.

c.     Yajurweda XL.6 menegaskan: “Seseorang yang melihat Dia berada pada setiap mahluk dan kemudian melihat semua mahluk ada pada-Nya, ia tidak akan membenci yang lain”.

d.    Tidak ada satu pun mantra/sloka dalam Weda yang mengajarkan umat Hindu untuk saling membenci satu sama lain.

2.    Namun demikian, sebagai umat Hindu kita memiliki prinsip untuk menjunjung tinggi adat-istiadat dan budaya lokal yang ada di seluruh nusantara. Umat Hindu di mana pun berada harus menghargai budaya dan adat istiadat di mana dia berada. Di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Manawa Dharmasastra II.6 yang menyebutkan: “Seluruh Weda (Sruti) merupakan sumber utama daripada dharma (Agama Hindu) kemudian barulah Smerti di samping kebiasaan-kebiasaan yang baik dari orang- orang yang menghayati Weda serta kemudian acara tradisi dari orang-orang suci (adat-istiadat) dan akhirnya atma tusti (kemantapan batin)”. Berdasarkan sloka ini, maka sudah seharusnya sampradaya dan seluruh komponen umat Hindu di Indonesia harus menghargai adat-istiadat serta budaya keagamaan di mana dia berada.

3.    Terkait dengan hal tersebut maka kami menyampaikan sikap resmi PP Pandu Nusa sebagai berikut:

a.     Pandu Nusa adalah organisasi yang independen, tidak terafiliasi dengan sampradaya apapun dan tidak berhaluan politik manapun. Pandu Nusa adalah perkumpulan dari para acarya yang bertugas memberikan edukasi tidak hanya kepada peserta didiknya tetapi juga umat Hindu atau masyarakat pada umumnya.

b.    Terkait dengan polemik HK, maka PP Pandu Nusa menyerahkan sepenuhnya kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat sebagai Majelis Tertinggi Umat Hindu di Indonesia.

c.     PP Pandu Nusa menghimbau kepada seluruh umat agar tidak terpancing segala bentuk provokasi baik yang pro maupun yang kontra HK.

d.    PP Pandu Nusa mengingatkan kepada seluruh komponen umat Hindu agar tetap santun dan mengedepankan susila Hindu dalam menyampaikan pendapat atau komentar terkait polemik HK baik melalui media sosial atau media yang lain. Sebaiknya kita menghindari segala bentuk cacian, makian, hinaan dan sejenisnya yang berujung pada ujar ala. 

e.     PP Pandu Nusa mengajak seluruh komponen umat Hindu untuk bersama-sama mengedepankan persatuan dan kesatuan antar umat Hindu sebagaimana diamanatkan dalam Pustaka Suci Weda di atas.

f.     PP Pandu Nusa menghimbau kepada seluruh acarya/guru pendidikan agama dan keagamaan di seluruh Indonesia agar berpedoman pada peraturan perundang-undangan atau kurikulum yang berlaku dalam melaksanakan pembelajarannya, menghindari muatan-muatan yang mengarah pada sampradaya tertentu, serta sedapat mungkin menggunakan pendekatan kearifan lokal dalam mengajarkan pendidikan agama dan keagamaan kepada para peserta didik/sisyanya.

g.    Khusus kepada penganut HK dan sampradaya lain yang tattwa, susila dan acara keagamaannya berpotensi menimbulkan gesekan dengan kearifan lokal Hindu di seluruh Nusantara, maka PP Pandu Nusa menyarankan agar melakukan introspeksi diri dan jika benar ada hal yang berpotensi menimbulkan gesekan, sebaiknya diadakan perbaikan.

h.    PP Pandu Nusa selama ini belum mengeluarkan pernyataan resmi, artinya segala bentuk pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh personal atau acara yang mengatasnamakan Pandu Nusa adalah pernyataan pribadi dan PP Pandu Nusa tetap menghargainya karena kita adalah organisasi yang menghargai semua perbedaan bahkan dalam hal pandangan sekalipun.

Demikian pernyataan resmi PP Pandu Nusa, atas perhatiannya disampaikan terima kasih.

ॐ शान्तिः । शान्तिः । शान्तिः ॥

Jakarta, 14 Agustus 2020
PP Pandu Nusa

Ketua Umum

Drs. I Gusti Ngurah Dwaja

Sekreteris Jenderal

Komang Susila, S.Ag., M.Pd.

Tembusan Yth.
1. Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI
2. Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat

Surat resminya ada di bawah ini:

1 Comment

Add a Comment
  1. I Nyoman Antaya Wijaya

    Om Swastiastu..
    Luar biasa Semoga Hindu tetap bersatu…didlm perbedaan..
    Hindu adalah Sanatana Dharma yg abadi..
    Sebuah payung besar yg mampu menampung semua sekta Hiduisme.

Tinggalkan Balasan