STRATEGI OPTIMALISASI PEMBELAJARAN ABAD 21 PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI DI SD BALI PUBLIC SCHOOL

Oleh
Komang Edi Putra, S.Ag., M.Pd
esaedy12@gmail.com

SD BALI PUBLIC SCHOOL
Jln. Drupadi No. 52 Denpasar

Pendahuluan

Sistem pembelajaran Abad 21 merupakan suatu peralihan pembelajaran dalam kurikulum yang dikembangkan saat ini menuntut sekolah untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pendidik atau yang sering di istilahkan dengan teacher centered menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik atau student centered. Panuntun (2018) secara sederhana mengungkapkan bahwa keterampilan dalam pembelajaran Abad 21 yang dikenal dengan 4 C yang terdiri atas; (1) collaboration; (2) critical thinking; (3) communication; (4) creativity. Keempat komponen tersebut merupakan standar minimal terkait keterampilan pembelajaran abad 21 yang diharapkan dimiliki secara optimal oleh siswa. Pada proses praksis pembelajaran yang dilaksanakan, langkah-langkah pembelajaranlah yang harus mengembangkan dengan optimal keempat keterampilan tersebut baik secara tersirat dalam rangkaian pembelajaran maupun secara tersurat dalam pencapaian kompetensi pembelajaran yang ditargetkan.

Mengenai pentingnya keterampilan Abad 21 dalam proses pendidikan Agama Hindu diungkapkan oleh Adnyana, dkk (2019) bahwa melalui kecakapan Abad 21 sesungguhnya mengharapkan agar siswa Hindu sebagai generasi penerus Hindu pada masa mendatang, mampu untuk berpikir kritis untuk mendobrak dogma-dogma yang tidak relevan. Keterampilan Abad 21 juga menekankan pada peningkatan sikap sosial dan spiritual yang mampu mewujudkan siswa Hindu peduli terhadap sesama, peduli terhadap lingkungan, serta memiliki sradha dan bhakti yang kuat. Selain itu keterampilan Abad 21 juga mengharapkan siswa Hindu, agar memiliki kemampuan dan kesiapan kerja berbasis online untuk dapat bersaing di tingkat global. Dengan demikian, siswa Hindu sebagai generasi muda penerus bangsa, akan mampu menghadapi tantangan zaman pada masa mendatang dengan sumber daya manusia yang kuat dan juga memiliki mental spiritual yang hebat. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 26 ayat (1) yang menyebutkan bahwa “standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut”. Dengan demikian peletakan dasar kecakapan Abad 21 dapat dilakukan melalui proses optimalisai pembelajaran pendidikan Agama Hindu khususnya di tingkat Sekolah Dasar sebagai sebuah landasan terbangunnya kompetensi Abad 21, akan tetapi fenomena yang terjadi saat ini bahwa guru pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti masih sangat terbatas dalam menerapkan pembelajaran Abad 21 dan kalaupun telah dilakukan belum optimal. Hal ini nampak dari pelaksanaan proses pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, yang secara umum masih dilakukan dengan pola-pola lama, masih berpusat pada guru atau teacher centered, dan belum banyak diterapkannya model-model pembelajaran.

Proses pembelajaran Abad 21 menekankan guru memiliki peran penting, akan tetapi peran guru Agama Hindu dan Budi Pekerti tidak akan terlaksana secara optimal tanpa ada dukungan dari berbagai komponen yang ada dalam proses pembelajaran tersebut. Fenomena seperti tersebut di atas juga nampak di SD Bali Public School Denpasar.

Teori dan Metode

Teori yang digunakan untuk membedah permasalahan dalam penelitian ini adalah teori belajar konstruktifisme oleh Piaget, teori belajar behavioristik oleh Pavlov dan Teori Motivasi oleh Herzberg. Menurut Piaget (dalam Paul, 1997:30-33) ada empat seseorang akan mencapai pengertian yang utuh dan sangat sesuai dengan apa yang peneliti lakukan dalam membedah masalah penelitian yang pertama yakni petingnya pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar dianalisis menggunakan pendekatan sebagaimana yang dikemukakan dalam teori belajar konstruktivisme Piaget yakni: (1) Skema/Skemata, (2) Asimilasi, (3) Akomodasi (4) Equilibration.

Skema dalam penelitian ini adalah gambaran pemahaman pentingnya pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk diterapkan sebagai sebuah keharusan, oleh penyelenggara pendidikan guna tercapainya tujuan pembelajaran dan terwujudkan kompetensi Abad 21, yang disesuaikan kondisi lingkungan sekolah. (2) Asimilasi dalam penelitian ini adalah gambaran tentang proses pengadaptasian siswa SD Bali Public School setelah dilakukan pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti baik yang dilakukan di dalam proses pembelajaran, budaya sekolah dan berbagai kegiatan sekolah. (3) Akomodasi dalam penelitian ini adalah gambaran tentang skema proses penyerapan pengetahuan yang baru oleh siswa SD Bali Public School setelah dilakukan pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti. Berdasarkan hal tersebut, siswa akan mengakomodasikan pengetahuannya tersebut, sehingga pengalamannya dari hari kehari tentang sesuatu hal dalam kaitannya dengan kecakapan Abad 21 akan semakin nyata. melalui kegiatan pembelajaran, program sekolah dan dapat dirasakan manfaatnya (4) Equilibration dalam penelitian ini adalah gambaran tentang proses menyeimbangan antara asimilasi dan akomodasi oleh siswa SD Bali Public School setelah dilakukannya pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk terbentuknya kecakapan Abad 21 itu sendiri.

Untuk membedah rumusan masalah ketiga berkaitan tentang strategi optimalisasi pembelajaran digunakan teoriMotivasi. Menurut Herzberg (1966), Herzberg’s two factors motivation theory atau teori motivasi dua faktor atau teori motivasi kesehatan atau faktor higienis, bahwa ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidak puasan. Dua faktor itu disebutnya factor higiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Dalam hubungannya dengan kondisi yang terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran Abad 21 pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School, sebagai sebuah lembaga pendidikan, juga berupaya maksimal untuk mecapai kepuasaan dalam upaya maksimal meningkatkan kualitas pembelajaran, dengan dengan berbagai macam cara atau strategi dengan berpedoman kepada aturan dan kebijakan dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada.

Pentingnya Pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti

Pembelajaran Abad 21 merupakan tuntutan globalasiasi, hal ini berdasarkan temuan data di lapangan dan hasil analisis data bahwa pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar menjadi sangat penting dilakukan karena sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman atau yang lebih dikenal dengan globalisasi. Globalisasi melahirkan sebuah kesadaran global sehingga ada upaya untuk melakukan sebuah proses atau usaha secara bersama-sama warga dunia dalam upaya mempersiapkan generasi yang memiliki kecakapan Abad 21, yang dilakukan melalui pelaksanaan pembelajaran Abad 21 di sekolah-sekolah sebagaimana yang dilakukan di SD Bali Public School Denpasar.

Pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti menjadi penting dilakukan Karena Sejalan dengan visi, misi dan tujuan SD Bali Public School Denpasar, Hal tersebut dikarenakan kesesuaian Visi, Misi dan tujuan pendidikan di SD Bali Public Schoool Denpasar dengan pembelajaran Abad 21. Pembelajaran Abad 21 secara umum dan secara khusus pada Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti adalah upaya untuk mewujudukan kompetensi Abad 21, yang sejalan dengan visi, misi dan tujuan SD Bali Public School Denpasar. Unggul yang di maksud dalam visi menyangkut banyak aspek dan sejalan dengan kompetensi pembelajaran Abad 21.

Pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti menjadi sangat penting dilakukan karena Relevan dengan esensi Pendidikan Hindu. Berdasarkan temuan lapangan dan analisis data bahwa secara umum kompetensi pembelajaran Abad 21 sangat relevan dengan esensi pendidikan Hindu, yang bertujuan untuk membentuk manusia mulia, berkarakter yang baik yang mengarah pada tujuan hidup bersama, life together. Dalam ajaran Agama Hindu banyak ditemukan konsep-konsep atau ajaran sebagai sebuah pondasi terbentuknya karakter untuk membangun manusia yang baik, mulia, dan berguna bagi kehidupan bahkan termasuk mewujudkan pemikiran kritis bagi peserta didik. Untuknya antara pembelajaran Abad 21 dalam pembelajaran Pendidikan Agama Hindu dan Budhi Pekerti, ibarat sebuah variabel yang bebas sekaligus terikat, karena saling melengkapi dan berorientasi sama. Pendidikan Hindu adalah substansinya dan pembelajaran Abad 21 adalah metode penyampaiannya, kemasan sekaligus inovasinya, sehingga pelaksanaan pembelajaran Agama Hindu menjadi bermakna sehingga tepat dalam sasaran serta berhasil dengan baik, sesuai dengan kondisi saat ini guna tercapainya tujuan pendidikan agama Hindu secara menyeluruh. Pada substansinya bahwa pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar, sangat penting dilakukan karena merupakan sebuah inovasi pendidikan yang secara spesifik merupakan inovasi pembelajaran dan menjadi sebuah keharusan untuk dilakukan, diterapkan dan senantitasa dikembangkan oleh para guru Agama Hindu sebagai varian pembelajaran sehingga mampu menghasilkan kualitas pembelajaran yang lebih bermakna dan menyenangkan guna tercapainya tujuan yaitu terwujudnya siswa yang sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang widhi Wasa, berkarakter dan terbentuknya kecakapan Abad 21.

Kendala Pembelajaran Abad 21

Kendala Internal Pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar, meliputi: (1) Kendala Guru Agama Hindu, mengarah pada rendahnya pemahaman konsep tentang pembelajaran Abad 21, yang secara spesifik adalah rendahnya kompetensi pedagogik guru Agama Hindu dengan berbagai faktor atau kendala yang menyebabkan, baik masalah kesempatan belajar, kesibukan, maupun  faktor klasik lainnya; (2) Kendala Peserta Didik, hasil analisis data menunjukan terdapat kendala kendala siswa dalam berbagai ragam bentuk dan jenisnya, seperti kurang semangat, kurang serius, tidak focus, masih bermain dengan teman dan lainnya sebagainya dalam pelaksanaan pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar dan perlu mendapatkan perhatian secara terus menerus dalam upaya mencapai hasil pembelajaran yang optimal. (3) Kendala Sarana dan Prasarana, bahwa terdapat kendala pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar yang disebabkan oleh kurang memadainya sarana dan prasarana yang tersedia di SD Bali Public School Denpasar, seperti areal halaman yang sempit, kurangnya media pembelajaran, akses internet yang terbatas dan lain sebagainya, yang berdampak terkendalanya pelaksanaan pembelajaran untuknya memerlukan upaya pengadaan untuk ketersediaanya seperti berbagai piranti dan prasarana lainnya, untuk menunjang pelaksanaan pembelajaran Abad 21 pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar.

Selanjutnya Kendala Eksternal Pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar yang meliputi, kendala wadah/organisasi profesi, kendala dukungan orang tua, dan kendala dukungan pemerintah; (1) Kendala Wadah/organisasi Profesi yang dalam hal ini adalah KKG Agama Hindu, baik di tingkat Kecamatan Denpasar Timur dan Kota Denpasar, tidak berjalan dengan optimal, yang disebabkan oleh terbatasnya pembiayaan, kurang solidnya pengurus, dan terbatasnya waktu karena kesibukan para guru dalam tupokisinya; (2) Dukungan Orang Tua, diketahui bahwa terdapat kendala dari orang tua dalam hubungannya dengan pelaksanaan pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar, yang dalam hal ini adalah kendala pendampingan, penguatan dan motivasi dari orang tua, karena disadari atau tidak bahwa dukungan orang tua sangat besar pengaruhnya untuk keberhasilan pendidikan seorang anak; (3) Dukungan Pemerintah, hasil temuan lapangan dan analisi data menunjukan terdapat kendala dari sisi dukungan pemerintah, belum adanya kejelasan tanggung jawab pembinaan pendidikan Agama Hindu, apakah melalui Dinas Pendidikan Kota Denpasar atau Kementrian Agama Kota Denpasar, dan belum konsistennya dilakukan pembinaan guru agama Hindu yang berkelanjutan dan berkesinambungan. Masalah lain yang muncul adalah adanya dikatomi antara guru pendidikan agama Hindu swasta dan guru negeri, juga antara guru negeri Kemenag dan guru Agama Hindu negeri yang diangkat oleh pemerinta Daerah. Dari sisi kebijakan dan teknis dari pemerintah yang dalam hal ini berkaitan tanggung jawab pembinaan dan peningkatan kompetensi guru Agama Hindu khususnya yang dialami oleh guru SD Bali Public School Denpasar dari pemerintah Kota Denpasar dan atau Kementrian Agama Kota Denpasar, yang berdampak pada pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar.

Strategi Optimalisasi Pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu

Startegi optimalisasi juga dilakukan dengan penerapan pembelajaran dengan pendekatan 4C sebagaimana disebutkan oleh Panuntun (2018) bahwa keterampilan pembelajaran Abad 21 yang dikenal dengan 4C yang terdiri atas: (1) collaboration; (2) critical thinking; (3) communication; (4) creativity. Sehubungan dengan hal tersebut dalam pelaksanaan pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti secara khusus dengan pendekatan 4C di SD Bali Public School Denpasar, dilakukan dalam dua tahapan yaitu dalam tahapan perencanaan dan tahapan pelaksanaan atau proses. Tahap perencanaan tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti, dan pelaksanaanya dilakukan dalam tahapan pembelajaran dari kegiatan awal, kegiatan inti sampai kegiatan akhir pembelajaran.

Startegi optimalisasi ketiga dilakukan dengan penilaian berstandar HOTS (hight order thinking skill) dan berbasis Online, hasil temuan di lapangan menunjukan bahwastrategi optimalisasi pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti telah dilakukan dengan penilaian berstandar HOTS juga berbasis online. Hal tesebut secara jelas mengarah untuk terbentuknya kecakapan Abad 21 berupa critical thingking, dimana membiasakan peserta didik untuk terlatih memiliki gagasan dan pikiran tingkat tinggi. Juga pelaksanaan dilakukan berbasis online dengan harapan peserta didik dapat mengaksesnya kapanpun dan dimanapun, guna terwujudnya kecakapan IT sesuai kecakapan dalam pembelajaran Abad 21.

Strategi lain dilakukan dengan mengembangkan Inovasi model Pembelajaran. SD Bali Public School telah menerapkan model-model pembelajaran yang meliputi, model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran cooperatif. Melalui model pembelajaran kontekstual, yang aktivitasnya dilakukan dengan pendekatan saitifik dalam prosesnya yaitu melalui aktivitas mengamati, menanya, yang dilanjutkan dengan mengumpulkan informasi, mengasosiasi atau mengolah informasi, selanjutnya mengkomunikasikan, maka secara tidak langsung para peserta didik akan yang mengikuti pembelajaran akan tercapai keterampilan pembelajaran 4C.

Pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti yang dikembangkan dengan model pembelajaran cooperatif di SD Bali Public School Denpasar nampak mampu mewadahi terwujudnya kecakapan Abad 21 dalam pembelajaran, seperti siswa dapat bekerja sama dalam kelompok merupakan bentuk keterampilan collaboration. Proses interaktif antar kelompok akan mampu membangun creatifity dan meningkatkan kemampuan peserta didik untuk crticall thinking and problem solving, selain itu presentasi tugas yang diberikan akan memberikan tantangan kepada peserta didik untuk mempersiapkan dirinya dalam menyampaikan hasil kerja kelompoknya sehingga akan terlihat semua peranan anggota kelompok yang paham dan tidak terhadap materi yang dibawakan dan akan terwujud keterampilan communication. Kelompok yang lain bebas memberikan masukan dan tanggapan terhadap materi yang dipresentasikan, dan dalam hal ini akan terwujud life skill atau keterampilan hidup untuk saling menghormati, menghargai sekaligus ada penerimaan dari setiap pendapat.

Optimalisasi pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu juga dilakukan dengan adanya program Morning Assembly.  Moorning Assembly adalah bentuk program atau budaya sekolah yang memfasilitasi terbentuknya keterampilan atau kecakapan Abad 21, baik dalam subjek pembelajaran berupa keterampilan dalam ranah 4C juga life skill atau kecakapan hidup, yang merupakan kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan Abad 21. Selanjutnya melalui Five Principle Of Morality (lima dasar moralitas) adalah salah satu program sekolah yang merupakan implementasi ajaran Panca Yama Brata yang merupakan pendidikan Agama Hindu. melalui program atau budaya Five Principle Of Morality merupakan pengejewantahan ajaran agama Hindu, sebagai landasan kokoh dalam membangun karakter mulia juga nampak membangun kecakapan Abad 21, yaitu pada kompetensi live skill dan kecakapan 4C, dalam hubungannya dengan interaksi social dengan orang lain. Selanjutnya Program 5 S, yaitu senyum, salam, sapa, sopan, santun, hawa hasil analissi data menunjukan program 5S adalah sebuah program di SD Bali Public School yang dikembangkan untuk membangun hubungan social yang mantap, melalui program ini baik langsung maupun tidak langsung dapat memfasilitasi peserta didik untuk terbentuknya kompetensi Pembelajaran Abad 21 pada subjek life and karier skill. Selanjutnya adalah Program TTM, atau program terpaksa, terbaisa dan membudaya  baik secara langsung atau tidak sangat membatu para siswa untuk terwujudnya kecakapan Abad 21 yaitu pada subjek kecakapan hidup atau life skill untuk menjadi insan yang fleksibel, adaftif, dan dapat menjalin hubungan sosial yang kokoh dan mantap dalam berbagai lintas budaya dalam kehidupan saat ini dan dimasa yang akan datang, juga terwujud kompetensi 4C.

Pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu Nampak dari adanya kegiatan ekstrakurikuler Yoga bahwa pelaksanaan kegiatan esktra yoga didalamnya dapat memfasilitasi terbentuknya kecakapan Abad 21 seperti crtical thinking melalui meditasi atau hening, juga melatih siswa untuk lebih fokus dan berkosentrasi, terwujdunya creativity melalui berbagai gerakan-gerakan yoga yang disebut asanas, collaboration dan communication dapat terbentuk karena kegiatan latihannya dilakukan berkelompok atau melibatkan banyak siswa sebagai peserta, demikian juga nampak bahwa melalui kegiatan yoga dapat menumbuhkan kompetensi kecakapan hidup atau life skill untuk menjadi pribadi yang fleksibel. Selanjutnya ekstrakurikuler Majejahitan bahwa kegiatan ekstra majejahitan yang dilakukan di SD Bali Public School Denpasar secara langsung dan tidak langsung juga dapat memfasilitasi terwujudnya kompetensi Abad 21, baik dalam subjek kecakapan hidup dan berkarier juga dalam subjek belajar dan berinovasi.

Kegiatan ekstrakurikuler tari dan tabuh, bahwa hasil temuan lapangan dan analissi data menunjukan bahwa pelaksanaan ekstra tari dan tabuh di SD Bali Public School Denpasar juga memfasilitasi terbentuknya kecakapan Abad 21, diantaranya pada kompetensi life skill atau kecakapan hidup, seperti fleksibel, inovasi, tanggung jawab dan kepemimpinan, hubungan social dan juga kompetensi belajar, seperti kreatif, kalaborasi, komunikasi dan berpikir kritis, yang terbentuk secara alamiah dari pelaksanaan kegiatan esktra tersebut. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Beers 2012:475, (dalam Yamisa Soreang, 2018:112) mengungkapkan bahwa strategi pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa dalam mencapai kecakapan Abad 21 harus memenuhi kriteria diantaranya memberikan kesempatan dan aktivitas belajar yang variatif. Kegiatan pembelajaran esktra tari dan tabuh merupakan bentuk ativitas yang sangat variatif dan menyenangkan. Hal ini sejalan dengan asumsi teori Motivasi bahwa berbagai kegiatan yang dilakukan dan dikembangkan oleh pihak sekolah dalam hal ini kegiatan ekstra tari dan tabuh merupakan fasilitas siswa untuk membentuk kecakapan Abad 21, baik dalam kompetensi life skill, dan juga terwujudnya kompetensi belajar dan berinovasi dalam ranah 4C.

Simpulan

Pentingnya pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar, yaitu karena; (1) Merupakan tuntutan dari globalisasi; (2) Pembelajaran Abad 21 dalam regulasi dan kebijakan pemerintah; 3) Sejalan dengan visi, misi dan tujuan SD Bali Public School Denpasar; (4) Relevan dengan esensi Pendidikan Hindu dan (5) Merupakan Inovasi pembelajaran saat ini.

Kendala pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar, berdasarkan hasil analisis data, dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu, kendala Internal dan kendala eksternal. Kendala Internal meliputi; (1) kendala guru, (2) kendala siswa, (3) Kendala Sarana dan Prasarana. Kendala eksternal meliputi, (1) Kendala Organisasi Profesi, (2) Dukungan Orang Tua, (3) Dukungan Pemerintah.

Strategi optimalisisasi pembelajaran Abad 21 Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti di SD Bali Public School Denpasar, dilakukan dengan; (1) Pembinaan dan Pelatihan guru Agama Hindu; (2) Pembelajaran dengan Pendekatan 4 C; (3)  Penilaian Berstandar HOTS (hight order thinking skill) dan Berbasis On Line; (4) Mengembangkan Inovasi Model Pembelajaran; (1) Model Pembelajaran Kontekstual, (2) Model Pembelajaran Cooveratif ; 5) Melalui Program Sekolah seperti, (1) Morning Asembly, (2) Five Principle  Of Morality, (3)Program 5S (4) Program TTM, dan 6) Melalui Kegiatan Ekstra Kurikuler, yaitu (1)  Ektra Yoga,  (2) Ekstra Mejejahitan, dan (3) Ekstra Tari dan Tabuh.

Daftar Pustaka

Atep Sujana, & Sopandi Wahyu, 2019. Model-Model Pembelajaran Invatif. Depok: PT Raja Grafindo Persada.

Daryanto & Syaiful Karim, 2019. Pembelajaran Abad 21. Yogyakarta: Gava Media

I Made Dwi Susila Adnyana & Kadek Aria  Prima Dewi PF, 2019. Implikasi Keterampilan Abad 21 Pada Proses Pendidikan Agama Hindu. Jurnal Penelitian Adi Widya, Denpasar, Vol 4 No. 2 Denpasar: IHDN Denpasar.

Lia Wahyu Panuntun, 2018. Optimalisasi Berpikir Tingkat Tinggi Melalui Model Project Citizen Dalam Konteks Pembelajaran Abad 21. Jurnal Penelitian: Jakarta: UNJ.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional pendidikan, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional, 2005

Tim Penyusun, 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Depertemen Pendidikan Nasional RI, Jakarta

Tim Penyusun, 2010. Paradigma Pembelajaran Abad 21. BSNP

Tim penyusun, 2016. Peraturan Mentri dan Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Nomor 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.

Tinggalkan Balasan